a gory copywriter

November 10, 2008

Mumpung masih suasana Haloween, saya akan ngasih tahu pekerjaan paling mengerikan di seluruh dunia…yang terbentuk akibat perbuatan satu orang!

Tukang daging jadi pembunuh mutilasi? Bukan. Ustad jadi dalang pemboman? Bukan juga.

Pekerjaan paling mengerikan di seluruh dunia adalah copywriter.

What?

Seseorang dengan fisik tidak menyakinkan, rata-rata berkacamata minus karena terlalu banyak terekspos layar CRT, dan menumpuk kamus di meja kantornya adalah pekerjaan paling mengerikan???

Thanx to this guy…

Herschell Gordon Lewis. Si kakek ini terkenal sebagai salah satu ahli pemasaran dan copywriting terkemuka di dunia (dia sendiri yang ngomong). Dia sudah menulis banyak buku, yang banyak di antaranya jadi text book kuliah. Jadi bagi yang kuliah komunikasi periklanan, silakan cek bibliografi skripsi atau TKA anda, jangan-jangan salah satu buku si kakek ini masuk di dalamnya.

Si Aki yang menyebut dirinya “the world’s best known copywriter” (sombong amat ni orang…ckckck) ternyata punya sisi gelap yang mengerikan! Inilah bukti “kekejamannya”…

Oh ya, jangan dibuka pas lunch! Ups…keburu ngeliat ya…hehehehe…

Itu baru sebagian kecil dari “kekejaman” Mr. Herschell yang juga terkenal sebagai “Godfather of Gore”. Ciri filmnya, khas “B” movie dengan darah, cewek cantik, organ berceceran, nude scene, darah lagi, psycho/monster/zombie/iblis, lagi-lagi darah, dst dsb. Produksi filmnya terbentang dari rentang tahun 1960 hingga 1972, dengan lebih dari 30 judul. Dia kemudian pensiun dan meneruskan pekerjaan “normal”-nya sebagai penulis buku copywriting. Pada tahun 2002, dia kembali rindu bau darah, dia merilis sekuel dari filmnya sendiri “Blood Feast” (1963) dan tahun 2009 nanti, nantikan film terbarunya “Blood De Madame: The Fallen Ones”.

Jadi mulai sekarang, bila anda bekerja di dunia periklanan, bersikaplah baik dengan rekan copywriter Anda. Jangan sampai dia membayangkan kepala anda terbelah dan mengeluarkan isinya! Huaarrgghh…

Diam. Dito terdiam di depan stand majalah. Di saku jeans-nya, ada uang 50ribu yang rencananya untuk membeli majalah. Bukan majalah biasa tentunya, tapi majalah pria dewasa! Bukan sesuatu yang shocking sih, masih lebih edan kalau dia baca Nova atau Trubus, tapi bagi Dito memilihnya bukan persoalan yang mudah. 50 ribu kan bisa buat makan di warteg deket kampus untuk beberapa hari. Jadi pengorbanan ini harus setimpal!

Nah, bagi Dito dan para early reader male mags pada umumnya, saya akan memberi review berdasarkan pengalaman membeli dan membaca those toilet magazines. Saya akan break down berdasar nama majalahnya ya…

Popular

Popular adalah pionir permajalahan pria dewasa di Indonesia. Udah dari tahun 1980an, mulai dr one piece sampe two piece, dari Sally Marcelina sampai Rahma Azhari, pokoknya udah makan asam digaramin deh…Secara umum format yang mereka usung adalah Classic, yaitu lebih banyak artikel dibandingkan pictorial page. PoseAsoy yang dijual di cover dikumpulkan di tengah majalah, yang biasa disebut centerfold. Popular menganut sistem ini sampai awal 2008, ketika mereka mulai mengadaptasi LadsMag format (penjelasan soal LadsMag akan diterangkan nanti). Kalau kamu suka model-model newbie, ini majalah buat lo. Yang saya lihat, mereka lebih suka mengorbitkan model baru di centerfold-nya dibandingkan seleb. Banyak kok yang berhasil diorbitkan majalah ini. Rata-rata fotonya mengikuti aliran Glamour alias yang udah cantik dipercantik, yang udah bohay diperbohay sebohay-bohay-nya (Note: ini definisi menurut saya ya). Ya kalau kepengen majalah yang Indonesia banget, silakan beli majalah ini…

Hilite: Artikel musiknya bagus!

Facts: beberapa modelnya terutama sekitar tahun 2007-2008an kebanyakan berasal dari Medan. I wonder why?

Harga: 35-45rb

 

FHM

Ini dia majalah pria franchise pertama di Indo. Layout dan gaya penulisannya mempelopori format LadsMag. LadsMag lebih mengutamakan pictorial page dibanding artikel (toh konsumennya lebih nyari foto-fotonya bukan?). Mulai dari buka beberapa halaman pertama, kamu sudah disambut rubrik Reporter yang berisi wawancara sangat singkat sekali (palingan cuma 5 pertanyaan) dengan pose cewenya yang segede gaban. Di dalam rubrik itu juga ada info yang rata2 ga penting, kayak hewan terlambat di dunia atau bra termahal di dunia. Selanjutnya ada rubrik head to head, dimana dua orang seleb diadu pertanyaan2 yang (tetep) ga penting kayak pernah cipokan di lift belum atau pernah makan makanan basi belum. Yang paling gila, dia lah yang menang! Seterusnya kita sambut another pictorial page, lalu artikel lepas, dilanjut another pictorial page (sigh), artikel lepas kembali sampai akhirnya hampir di belakang majalah, baru ada pictorial page-nya model cover bulan itu, sehabis itu baru fashion pages…Beda dengan format Classic yang menganut Glamour photography, LadsMag lebih natural, seakan bisa terjadi sehari-hari, meski kadang-kadang ada Glamournya juga sih. FHM lebih banyak memakai model seleb dibandingkan model newbie, namun para newbie udah punya wadahnya di GND (Girl Next Door). Menurut saya, ini majalah pria paling mending saat ini, meski sempet cupu gara-gara kejadian Majalah Kelinci diudek-udek sama Front Preman.

Hilite: kapan lagi bisa melihat seleb dengan pakaian yang kurang bahan, meliputi Dewi Sandra hingga Sandra Dewi

Facts: setiap bulan puasa, cover dan contentnya ikutan puasa juga alias ga terlalu buka-bukaan.

Harga: 45rb

 

Maxim

Majalah ini bersaing ketat dengan FHM di kancah permajalahan pria dunia. Sama-sama LadsMag format, sama-sama jor-joran artis yang lagi naek daun dipasang di covernya, dan sama-sama berasal dari Inggris! Maxim Indonesia keluar setelah FHM udah 2-3 tahun di Indonesia. Begitu pertama kali keluar, astaga…bahasanya berantakan banget! menjurus banget, sebelas dua belas dari tabloid mesum di pinggir jalan itu! Namun…pictoral pagesnya oke, enak dilihat, dan fresh dengan model-model yang belum begitu terkenal. Majalah ini sempet jatuh sampai ex Chief Editor FHM Indo, Ery Prakasa, masuk dan mengangkat Maxim menjadi…mirip FHM! Hahaha…setidaknya Mas Ery telah ngebenerin vocabulary para wartawannya jd sedikit classy. Dari skala 5, saya kasih 4 aja buat Maksim…

Hilite: saya merasa majalah ini mahasiswa banget de! Entah kenapa…mungkin dari gaya berbahasanya dan fashion pages yang (sedikit) lebih membumi

Facts: beli Maxim+FHM, anda akan mendapat double issue! (sangking samanya dua majalah tersebut)

Harga: 35-45rb

 

ME

Singkatan dari Male Emporium. Majalah yang pake embel-embel Asia di belakang namanya ini menganut format Classic. Bedanya dengan Popular yang condong ke Playboy, ME mengikuti mahzab Esquire. Majalah ini dasarnya adalah majalah yang ambisius. Dia mempekerjakan Darwis Triadi sebagai supervisor photography dan Nico, seorang perancang lingirie sebagai konsultan fashionnya. Hasilnya? Biasa aja sih…artikel-artikel (sok) berkelas dan (ke)panjang(an) serta pictorial page yang (terlalu) glamour. Model-modelnya pun seperti disharing dengan Popular. Tak jarang, ada model bulan ini di ME, besoknya berpose di Popular. Kalau anda seorang eksekutif (sok) muda, silakan beli majalah ini.

Hilite: Pictorial pages-nya bagus (ya iyalah Darwis Triadi gituuh)

Facts: majalah ini pernah punya acara behind the scene pemotretan di teve…lumayan ditunggu-tunggu dan lumayan sering digeser-geser jadi semakin malam…oh iya, kadang-kadang dapet bonus DVD loh

Harga: 40-55rb

 

Playboy (alm.)

Ini dia majalah yang gara-gara kegedean nama, jadinya kolaps (atau di-kolaps-kan?) dengan cepat. Kalau PB Worldwide punya award, mungkin PB Indo dinobatkan jadi cabang mereka yang paling sopan. Tidak ada pose seberani orang-orang duga. Sepintas malahan seperti ME. Cuma…ME, Popular kalah jauh deh dari segi fotografi dan artikel. Saya ngga ngebandingkan dengan FHM atau Maxim karena positioningnya beda. Sayang sekali napasnya cuma sampai sekian edisi, kalau ngga inilah majalah pria dewasa paling sophisticated di Indo. Kalo kamu belom pernah baca, buruan cari tukang loak sekarang! It’s gonna be collector’s items!

Hilite: artikel super panjang dan berbobot! Ngga baca artikelnya bakal nyesel berat!

Facts: beberapa eksemplar PB Indo ditemukan di markas FPI, tapi ga dijelaskan apakah majalahnya lecek dan lengket atau ngga…

Harga: around 50-60ribu

 

Berikut ini adalah majalah-majalah pria yang tidak se-hip di atas, yang pernah saya beli atau setidaknya saya baca…

EHM: ngga jelas isinya, terbit dalam edisi mini layaknya Cita Cinta, pictorial pages kebanyakan donlot dari internet

X-magazine: serupa dengan Popular dengan pictorial page setiap 3 halaman…sigh

Esquire: ini toh yang ditiru-tiru ME…hehhehe

Men’s Health: otot? males juga liatnya…hahhaa

 

Nah…sekian review dari saya. Semoga bisa membantu Anda mengambil keputusan membeli majalah pria yang diinginkan. Ingat! Gunakan sebaik-baiknya 50ribu itu ya!

Kita kembali ke Dito…jadinya beli apa ya dia?

Dito: Bang!

Abang Tukang Majalah: Ya?

Dito: Mau yang itu tuh…(sambil menunjuk ke satu majalah)

Abang Tukang Majalah: Oh itu…(kemudian mengambilkan majalahnya)

Dito: (bersorak-sorak norak) Yeee…

Abang Tukang Majalah: Yakin?

Dito: Yakinlah Bang…di edisi ini soalnya lagi ngebahas soal gelombang cinta!

Abang Tukang Majalah: Ooo gitu…kirain mau yang depannya artis A atau model X

Dito: Halah…itu ga guna! ini duitnya Bang! Makasih ya!

Dito pulang dengan langkah riang gembira, pikiran berbunga-bunga…bunga uang…karena di tangannya memegang Trubus edisi menanam dan merawat tanaman Gelombang CInta dengan usaha minimal mendapat profit maksimal!

Hidup Trubus!

orang mati meninggalkan belang

September 14, 2008

“Huh!”

Panasnya mentari siang ini…

seorang pria berhidung belang

berjalan pelan

menyusuri gang-gang sempit

sampai akhirnya dia membuka pintu sebuah rumah

“blak”

“krek”

“BLUK!”

si pria jatuh persis di depan pintu

saat sepasang mata tajam menatapnya nanar

mata milik si belang

yang kemudian menjilati wajah si pria

si belang menjilat si belang

harus ada yg melanjutkan kebelangan ini

yang pasti

belang satu hilang

muncul belang lainnya

dan siap melanjutkan rangkaian tulisan ke depan

some usual chit-chat

Januari 10, 2007

Blas!

Terang…begitu terang. Entahlah siapa yang memasang lampu neon sebegitu terangnya. Yang jelas, kakek itu terus-terusan mengucek matanya sampai merah dan berair. Dia merogoh saku celananya, tampaknya dia mencari saputangan. Tak lama dia menghela napas, dia seperti lupa ditaruh dimana kain untuk menyeka airmatanya itu.

Ruangan itu adalah sebuah ruang tunggu. Entahlah ruang tunggu apa, yang pasti ada loket yang tertera tulisan “Ambil Nomor Antrian di Sini”, maka kesimpulan sementara adalah itu ruang tunggu rumah sakit atau klinik. Kakek itu sudah duluan mengambil nomor di depan. Lagi-lagi dia menghela napas, mungkin nomornya jelek alias masih jauh dari nomor di layar monitor yang hampir tak kelihatan gara-gara terangnya lampu ruang itu. Si kakek menerawang ke arah kursi-kursi yang berjejer. Tak ada siapa pun. Sepi. Dia hendak menghela napas panjangnya lagi sampai tiba-tiba dia melihat ke satu sudut. Di situ, seorang tua sedang tersenyum ke arahnya sambil menunjuk kursi kosong di sebelahnya. Mmmm…ngapain juga yah duduk sendirian, mendingan ngobrol sama orang itu. Dia membalas dengan senyum sambil berjalan ke arah orang tua itu.

Seorang hitam. Maksud saya, seorang berkulit hitam. Rambutnya ikal, agak panjang, dan oohh… dia tersenyum lagi… Lebar sekali senyumnya…

Orang Tua (OT): Hahahaha….akhirnya ada orang! God Bless Me! Hahahaha….

Kakek (K): Ya..ya…hehehe…aneh juga ya, sepi tapi kok saya dapet nomor segini (sambil memperlihatkan kupon antriannya)

OT: Hahaha…saya juga baru datang…nomornya cuma beda satu nih…tapi kok masih jauh ya kayaknya (sambil melirik ke layar monitor)

K: Ada yang ngambil terus ditinggal kali. Hehehe…heran yah…perasaan saya udah pernah liat saudara, tapi dimana yah?

OT: Hahahaha….gha heran, saya itu terkenal…orang-orang hormat ke saya, terus jadiin saya raja…pelindung mereka…jangan heran pak…jangan heran…hahhaaha…

K: Wah… Pantas kalo begitu. Saya juga dulu raja loh. Punya kuasa dimana-mana, ditakuti, dijunjung, dihormati. Rasanya sejuta, semilyar, setrilyun malahan…. Hahaha… Tau juga kan rasanya?

OT: Pasti! Saya merasakan sekali! Kalau saya sudah beraksi yah…huh! Semua orang langsung memuja saya! Hahahaha…

K: Mungkin karena saudara pake baju seperti itu…

OT: Baju ini? Memang sih terasa ribet dan berat, tapi yah…inilah identitas saya…orang gak bakal ngerti kalo saya gak pake ini! Ya, orang lebih senang melihat sesuatu yang tidak biasa, yang lebih terang, yang lebih-lebih lainnya lah…Hahaha…

K: Betul juga sih. Saya juga senang berbuat tidak biasa, saya suka menantang sesuatu yang lebih besar, kuat, pokoknya lebih dari saya…

OT: Hahaha…bagus itu…tapi pernah menang gak?

K: Pernah sih. Untuk beberapa waktu. Sekarang ini, ummm…tampaknya sih tidak…

Ting, tong, ting, tong! Suara bel tiba-tiba berbunyi. Monitor lalu menunjukkan nomor baru.

OT: Nah…Thank God! Itu nomor saya! Duluan ya Pak! Hahaha…

K: Wah silahkan… Cepat sekali yah, padahal saya aja belom tau nama saudara…

OT: Hahaha… Orang biasa memanggil saya Godfather. Saya sering dan selalu menyanyi soul. Jadilah Godfather of Soul! Hahaha… Saya sebenarnya tahu Anda entah dimana, tapi dasar otak tua, sudah lupa saya. Hahaha…

K: Saya tak mau kalah dengan Anda. Saya juga punya julukan. Singkat saja, Jendral dari Baghdad!

OT: Ah… Pantas saja! Ah, saya sudah dipanggil. Nice to know you! Saya tak mengira Anda sebaik ini… Hahaha…

K: Memang, semua orang selalu berpikiran salah tentang saya. Selamat jalan Pak, sampai ketemu nanti!

OT: Hahaha… Tenang saja! God Bless You!

Si orang tua berjalan mantap menuju pintu yang sudah terbuka dari tadi. Pintu yang terang sekali.

Jleg! Sekarang sudah tertutup lagi.

Ah! Menunggu lagi! Pikir si kakek dalam otaknya. Dia memejamkan matanya yang masih kesilauan. Lalu menarik napas panjang. Lalu membuka matanya kembali.

Seorang wanita muda tersenyum padanya. Di belakangnya ada beberapa, tak hanya satu dua orang, hampir ratusan orang, tua muda, semuanya tersenyum sambil menatap dirinya.

Si kakek lega akhirnya ada yang mau menemaninya. Tersenyumlah dia. Senyum kesekian yang dikeluarkan hari itu.

RIP James Brown, Saddam Hussein, Alda Rizma, dan penumpang Adam Air PK-KKW

salah milis

Januari 10, 2007

Ketika gue membuka daily digest dari sebuah milis majalah pria, ada sebuah kejanggalan seperti di bawah ini…

salah milis nih...

mungkin si orang ini sudah putus asa, tak tahu harus mengirim kemana. Maka bergabunglah permintaan dia magang dengan penawaran sex toys dan DVD Maria Ozawa terbaru…

Ironis!

two double-o seven

Desember 31, 2006

Ah…akhirnya ganti kalender lagi…berakhir lagi satu tahun yang banyak lumayan beberapalah kesan tercipta…

Gue punya banyak harapan buat tahun besok, mulai dari bangkit dari sekian lama duduk di bangku kuliah, mulai belajar mencari sesuap nasi di rimba Jakarta ini, sampai ehm…. bab baru dalam babad percintaan ingsun.

Resolusi? Kenapa semua orang pasti punya resolusi ketika hendak ganti tahun? Gue sendiri bisa dibilang tak punya resolusi. Seiring berjalannya waktu dalam setahun, gue selalu berulang kali berganti resolusi. Umpamanya, beberapa tahun yang lalu, resolusi utama gue adalah bisa menyetir dengan baik dan benar berdasarkan Cara Belajar Siswa Aktif dan kurikulum 1994 (halah!). Tau-tau…bulan apa gitu gue lupa, Pemerintah menaikkan BBM! Gha tanggung-tanggung, 100%! Gila…isi bensin sebuah Mitsubishi Lancer ’92 full tank dari hanya 50rb menjadi 100rb! Hancurlah resolusi gue…mo makan apa kalo bawa mobil mesti beli bensin…Duit jajan juga stabil lagi (baca: tidak naik)

Plin-plan? Bisa dibilang begitu…

Tapi, ada satu resolusi yang gue pertahankan dari tahun ke tahun. Orang-orang udah memposisikan gue di antara mau menyaluti dan mau mengkasihani karena resolusi tersebut. Nah…ini salah satu yang berkesan di 2006 kemarin! Gue akhirnya bisa “melanggar” resolusi yang satu itu. Memang susah, cuma pada akhirnya sangat melegakan.

Gue sekarang sudah duduk menghadap meja, sebuah ballpoint Boxy dan secarik kertas file ada di sebelah kanan gue, gue tarik kertasnya, gue ambil ballpoint, lalu gue lepas tutupnya, dan mulai gue gores kertas kosong itu…

2007 is for…

Something

Someone

Somewhere

———————

Happy New Year!

alchemy for a fool

September 12, 2006

Pertanyaan pertama! Apakah itu alchemy? Wah susah yah, kecuali bagi yang udah pernah baca Harry Potter. Yup, kinda witchcraft things. Secetek itukah? Tanyakan pada Nicolas Flamel. Bercanda? Tidak, ini serius. Nicolas Flamel pernah hidup dan bernapas di dunia ini pada masa pertengahan. Dia dikenal sebagai ahli alchemy terkemuka di jamannya, bersama dua orang santo (atau bukan yah) bernama Albertus Magnus dan Thomas Aquinas. Terus apa itu sebenernya alchemy? Ketika orang belum berteori ria tentang hukum-hukum fisika, beberapa orang nekad mencoba mengubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, dari mimpi menjadi kenyataan, dengan memakai segala cara mulai dari bener-bener eksperimen sampai berkomat-kamit baca mantra.  Itulah para alchemist yang mempraktekkan tentu saja, alchemy.

Impian orang pada masa itu adalah emas. Semua materi dinilai dengan emas. Mungkin karena bentuknya yg cemerlang, jernih (minyak goreng aja dibilang jernih kalo berwarna emas), dan susah dicari. Di jaman alat-alat pertambangan belum sedikit pun terpikir, secuil emas saja sudah merupakan keberuntungan bagi para penambangnya. Emas itu logam. Logam itu banyak, ada besi, baja, seng, aluminium, tembaga, dan lain-lain. Kalo masih bersaudara, masih bisa dong didandani, dirias, diberi baju kakaknya. Seharusnya dia sedikit mirip kakaknya si Emas. Oleh karena itu, goal pertama dalam ilmu ini adalah perubahan logam biasa menjadi logam berharga, seperti emas dan perak. Mengurung diri, mencari bahan-bahan aneh, bahkan memanggil roh Merlin si Penyihir, jadi jalan yang dihalalkan oleh para alchemist. Yah, sapa tau berhasil…

Brak! Pintu lab itu terbanting kencang. Sepi memang sih. Sudah hampir jam 8 malam. Hanya orang nekad dan satpam saja yang berani masuk sini. Yang membanting pintu tadi adalah aku. Ku ambil jaket lab dan ku hampiri meja guru yang dari tadi terlihat sosok yang tidak biasa. Sedang duduk di situ, seorang kecil, berjanggut putih lebat, dan memakai topi aneh. Ini dia Nicolas Flamel. Dia hanya tersenyum kecut, sambil berkata dalam bahasa Prancis yang anehnya bisa ku mengerti. “Bersih juga ruangan ini”. Sial, aku benar-benar bekerja keras untuk membersihkan sisa-sisa eksperimen akibat ledakan kemarin. “Untung saya bisa maklum, dan kamu memang seharusnya dapat kesempatan kedua”. Fuiihh…ku menarik napas lega. Tiba-tiba Nicolas menunjuk ke arah baskom kuningan. “Hey, berusahalah untuk mengubah itu”. Di dalam baskom, terdapat lempengan logam. Dari raut wajah Nicolas, aku sudah tahu apa yang dia suruh. Lempengan logam harus jadi emas batangan. Damn…okey…kita ambil langkah per langkah. Langkah-langkahnya pun habis. Aku melirik ke Nicolas. “Hey, kerjalah dulu. Jalan pun bukan cuma itu aja. Apapun bisa terjadi, nak!”. Apa iya ya? Ku ulangi semua usahaku. Celup sana, celup sini. Aduk sana, aduk sini. Sedikit demi sedikit, terlihat sedikit warna emas. Ah, masih banyak bagian yang harus dilengkapi supaya bisa menjadi batangan emas. Itupun harus sempurna, karena bisa hilang sewaktu-waktu. Memang perlu waktu, usaha, dan tenaga, serta niat. Nicolas hanya bisa tersenyum di ujung sana. Senyum penyemangat, mungkin…

Chemistry is a kind of alchemy.