tanggal empat

Oktober 9, 2008

Sebutkan tanggal berapa yang paling menggembirakan untuk Anda?

Gue yakin semua akan menjawab tanggal gajian…bukan?

Beda halnya dengan para pensiunan PNS/TNI, gajian mereka baru cair di kantor pos tanggal 4 setiap bulannya. Lucu ya, padahal tanggal 4 di beberapa kebudayaan Asia dianggap bersinonim sama dengan “kematian”

Tanggal empat di kalender, kakek-nini-aki-nenek senang, Julianto Priadi ikut senang…

Hari itu, tanggal empat juli dua ribu lima. Peringatan Kemerdekaan Amerika Serikat, kemerdekaan para pensiunan dari utang di warung, kemerdekaan Julianto Priadi dari rahim ibunya sembilan belas tahun yang lalu.

Rakyat Amerika membakar kembang api, Julianto Priadi boleh juga dong membakar yang lain…asap dalam bong atau asap dari lintingan kertas putih. Toh, ini kan peringatan lolosnya dia dari rahim ibunya…Susah loh lolos dari lubang sempit itu, apalagi sampai sang Ibu pun menyerahkan hidupnya.

Yuk deh datengin si Mamat yang jadi bede di Gang Kalimati, cuman…gile apa doku dari mane…

Tanggal empat, doku…tanggal empat, gajian…tanggal empat, pensiunan gajian…tanggal empat, pensiunan punya uang!

Lho kok tau tanggal empat itu tanggal keramat? Kan biasa jadi t’kang parkir di depan kantor pos saban bulannya, ngatur bajaj, motor sampai sepeda onthel yang berceceran tak beraturan…

Ambil uang…dari kantor pos…jatahnya pensiunan….udah tua ini…ga bisa ngelawan…golok di tangan…ga ada satpam…lari…langsung ke Mamat…Mat, yang paling mahal lu punya…dan Mmmmm….

“Hoek!”

BLUK!

Julianto Priadi jatuh terjerembab. Dia memuntahkan darah segar dari mulutnya. Pandangannya kabur. Bau anyir merasuk ke hidungnya. Kemudian gelap…

====

“Jadi tadi kejadiannya gimana sih Pak?”

“Nah lagi antri gitu kan, tiba-tiba masuk si tukang parkir sambil bawa golok, treak-treak ga jelas…namanya orang-orang tua ya panik…ya udah kasih aja duit yang barusan diambil, Pak Udin kasir kena sabet tu pipinya”

“Jadi diambil semua duitnya?”

“Iya…heran aja kok ngga kasian sama kita-kita…jadi syukurin udah koit dia…”

“Kok bisa ada yang ngelempar tongkat sampai nembus punggungnya si rampok?”

“Oh itu…iya, kan udah diambil semua duitnya…pas mau lari ke depan, si pak…um..um…yg kolonel itu sapa namanya…ah Kolonel Mahmud! Hebat dia, umur 82 masih ngambil pensiun sendiri, jalan 5 kilo dari rumah, katanya pernah ilang di hutan Irian sana ampe 3 bulan”

“Jadi Pak Mahmud ini yang bunuh si rampok?”

“Iya…nah saya jadi inget mas, dia prnh cerita pas dia ilang, dia dirawat sama orang-orang asmat, diajarin berburu…kayaknya dia cinta bener sama daerah sana, orang-orang minta dipindahin ke pusat, dia malah di korem sana…trus dia pernah nunjukin tongkat jalan-nya dia, yang ternyata dimodif dari tombak asmat”

“Mmm…”

“Pas kena punggungnya kan? Dia bisa tau titik mematikan dari manusia, mas…salut saya ama dia…”

“Oh, kalo begitu segini aja pak, saya permisi dulu, terimakasih…eh maaf pak…nanya satu lagi”

“Apa itu mas?”

“Tadi Bapak lihat si rampok dihajar tidak? Sebab saya sempat bertanya kepada polisi tadi, si rampok mukanya udah ngga ada bentuknya lagi…Apa yang ngeroyok masyarakat sekitar sini pak?”

“Iya itu saya lihat…umm…bukan orang-orang sini kok, sepertinya umm…ummm…ada sih 5 orang pensiunan juga yang gebukin dia”

“Oh pensiunan juga…umm…baiklah, maaf pak, saya malah belum catet nama bapak”

“Saya Letkol Purnawirawan Subarkah…perlu saya kasih tau kesatuan saya dulu? hahaha”

“Tidak perlu pak hahaha…”

Si wartawan menulis lokasi kejadian di notes kecilnya…kantor pos dekat cilangkap, melayani khusus pensiun para purnawirawan.

RIP Julianto Priadi. Wrong man on the wrong place.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: