anda/kamu/kau/loe

Januari 20, 2007

Yah…benar, kau! Kau yang berdiri di situ

Aku ingin bertanya, “kenapa kau hanya berdiri saja di situ sepanjang waktu?”

“Aku bisa mengajakmu berjalan-jalan, melihat-lihat gedung-gedung di ibukota, atau nongkrong di warung pinggir jalan”

“Kok diam saja? Aku tak bermaksud apa-apa. Yah daripada kau hanya berdiri situ saja”

“Aku tahu banyak peristiwa yang barusan kau lewati. Aku tahu, entahlah dari mana aku tahu, kau tak perlu tahu. Ada yang pahit meski menyenangkan. Ada yang menyenangkan meski menyakitkan. Aku tahu itu, aku tahu…”

“Aku mungkin terlalu banyak berandai-andai. Berandai-andai tentang siapa lagi kalau bukan kau. Entahlah…aku ingin menghambarkan segalanya yang pahit, memaniskan yang hambar, menambah gurih yang sudah manis”

“Apalagi yah…yang pasti aku tak ingin melihat kau terperosok. Yah terperosok. Tergelincir. Terjungkal. Apapun istilahnya. Entahlah itu karena batu, lubang, selokan, atau lubang semut yang sengaja maupun tidak, kau lewati.”

“Aku mungkin hanya punya ranting. Setidaknya aku ambil ranting itu dari pohon akasia itu. Pohon akasia yang masih muda. Masih kuat batangnya. Kuambil yang paling besar. Kutawarkan ranting itu kepada kau. Ku pegang satu ujung, kau pegang ujung satunya lagi. Biar ku tarik kau dari situ.”

“Yah mumpung kau belum terperosok. Bukan ngedoain yah. Hehehe… kau kan masih di pojok situ. Ya udah, ayo… Mari kita jalan-jalan. Beranjak dari sini. Aku juga bosan terus-terusan ada di pojokan.”

“Ayo, aku lapar nih. Kita bisa ke warung sebelah, makan gorengan, minum kopi hangat, ngobrol apa aja. Bercerita apa aja. Yah kalo bisa, sambil membersihkan kakimu yang bekas terperosok kemarin”

Ku buka tangan kananku, ku sodorkan kepadanya, sambil ku tersenyum…

Ayo…

some usual chit-chat

Januari 10, 2007

Blas!

Terang…begitu terang. Entahlah siapa yang memasang lampu neon sebegitu terangnya. Yang jelas, kakek itu terus-terusan mengucek matanya sampai merah dan berair. Dia merogoh saku celananya, tampaknya dia mencari saputangan. Tak lama dia menghela napas, dia seperti lupa ditaruh dimana kain untuk menyeka airmatanya itu.

Ruangan itu adalah sebuah ruang tunggu. Entahlah ruang tunggu apa, yang pasti ada loket yang tertera tulisan “Ambil Nomor Antrian di Sini”, maka kesimpulan sementara adalah itu ruang tunggu rumah sakit atau klinik. Kakek itu sudah duluan mengambil nomor di depan. Lagi-lagi dia menghela napas, mungkin nomornya jelek alias masih jauh dari nomor di layar monitor yang hampir tak kelihatan gara-gara terangnya lampu ruang itu. Si kakek menerawang ke arah kursi-kursi yang berjejer. Tak ada siapa pun. Sepi. Dia hendak menghela napas panjangnya lagi sampai tiba-tiba dia melihat ke satu sudut. Di situ, seorang tua sedang tersenyum ke arahnya sambil menunjuk kursi kosong di sebelahnya. Mmmm…ngapain juga yah duduk sendirian, mendingan ngobrol sama orang itu. Dia membalas dengan senyum sambil berjalan ke arah orang tua itu.

Seorang hitam. Maksud saya, seorang berkulit hitam. Rambutnya ikal, agak panjang, dan oohh… dia tersenyum lagi… Lebar sekali senyumnya…

Orang Tua (OT): Hahahaha….akhirnya ada orang! God Bless Me! Hahahaha….

Kakek (K): Ya..ya…hehehe…aneh juga ya, sepi tapi kok saya dapet nomor segini (sambil memperlihatkan kupon antriannya)

OT: Hahaha…saya juga baru datang…nomornya cuma beda satu nih…tapi kok masih jauh ya kayaknya (sambil melirik ke layar monitor)

K: Ada yang ngambil terus ditinggal kali. Hehehe…heran yah…perasaan saya udah pernah liat saudara, tapi dimana yah?

OT: Hahahaha….gha heran, saya itu terkenal…orang-orang hormat ke saya, terus jadiin saya raja…pelindung mereka…jangan heran pak…jangan heran…hahhaaha…

K: Wah… Pantas kalo begitu. Saya juga dulu raja loh. Punya kuasa dimana-mana, ditakuti, dijunjung, dihormati. Rasanya sejuta, semilyar, setrilyun malahan…. Hahaha… Tau juga kan rasanya?

OT: Pasti! Saya merasakan sekali! Kalau saya sudah beraksi yah…huh! Semua orang langsung memuja saya! Hahahaha…

K: Mungkin karena saudara pake baju seperti itu…

OT: Baju ini? Memang sih terasa ribet dan berat, tapi yah…inilah identitas saya…orang gak bakal ngerti kalo saya gak pake ini! Ya, orang lebih senang melihat sesuatu yang tidak biasa, yang lebih terang, yang lebih-lebih lainnya lah…Hahaha…

K: Betul juga sih. Saya juga senang berbuat tidak biasa, saya suka menantang sesuatu yang lebih besar, kuat, pokoknya lebih dari saya…

OT: Hahaha…bagus itu…tapi pernah menang gak?

K: Pernah sih. Untuk beberapa waktu. Sekarang ini, ummm…tampaknya sih tidak…

Ting, tong, ting, tong! Suara bel tiba-tiba berbunyi. Monitor lalu menunjukkan nomor baru.

OT: Nah…Thank God! Itu nomor saya! Duluan ya Pak! Hahaha…

K: Wah silahkan… Cepat sekali yah, padahal saya aja belom tau nama saudara…

OT: Hahaha… Orang biasa memanggil saya Godfather. Saya sering dan selalu menyanyi soul. Jadilah Godfather of Soul! Hahaha… Saya sebenarnya tahu Anda entah dimana, tapi dasar otak tua, sudah lupa saya. Hahaha…

K: Saya tak mau kalah dengan Anda. Saya juga punya julukan. Singkat saja, Jendral dari Baghdad!

OT: Ah… Pantas saja! Ah, saya sudah dipanggil. Nice to know you! Saya tak mengira Anda sebaik ini… Hahaha…

K: Memang, semua orang selalu berpikiran salah tentang saya. Selamat jalan Pak, sampai ketemu nanti!

OT: Hahaha… Tenang saja! God Bless You!

Si orang tua berjalan mantap menuju pintu yang sudah terbuka dari tadi. Pintu yang terang sekali.

Jleg! Sekarang sudah tertutup lagi.

Ah! Menunggu lagi! Pikir si kakek dalam otaknya. Dia memejamkan matanya yang masih kesilauan. Lalu menarik napas panjang. Lalu membuka matanya kembali.

Seorang wanita muda tersenyum padanya. Di belakangnya ada beberapa, tak hanya satu dua orang, hampir ratusan orang, tua muda, semuanya tersenyum sambil menatap dirinya.

Si kakek lega akhirnya ada yang mau menemaninya. Tersenyumlah dia. Senyum kesekian yang dikeluarkan hari itu.

RIP James Brown, Saddam Hussein, Alda Rizma, dan penumpang Adam Air PK-KKW

salah milis

Januari 10, 2007

Ketika gue membuka daily digest dari sebuah milis majalah pria, ada sebuah kejanggalan seperti di bawah ini…

salah milis nih...

mungkin si orang ini sudah putus asa, tak tahu harus mengirim kemana. Maka bergabunglah permintaan dia magang dengan penawaran sex toys dan DVD Maria Ozawa terbaru…

Ironis!