alchemy for a fool

September 12, 2006

Pertanyaan pertama! Apakah itu alchemy? Wah susah yah, kecuali bagi yang udah pernah baca Harry Potter. Yup, kinda witchcraft things. Secetek itukah? Tanyakan pada Nicolas Flamel. Bercanda? Tidak, ini serius. Nicolas Flamel pernah hidup dan bernapas di dunia ini pada masa pertengahan. Dia dikenal sebagai ahli alchemy terkemuka di jamannya, bersama dua orang santo (atau bukan yah) bernama Albertus Magnus dan Thomas Aquinas. Terus apa itu sebenernya alchemy? Ketika orang belum berteori ria tentang hukum-hukum fisika, beberapa orang nekad mencoba mengubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, dari mimpi menjadi kenyataan, dengan memakai segala cara mulai dari bener-bener eksperimen sampai berkomat-kamit baca mantra.  Itulah para alchemist yang mempraktekkan tentu saja, alchemy.

Impian orang pada masa itu adalah emas. Semua materi dinilai dengan emas. Mungkin karena bentuknya yg cemerlang, jernih (minyak goreng aja dibilang jernih kalo berwarna emas), dan susah dicari. Di jaman alat-alat pertambangan belum sedikit pun terpikir, secuil emas saja sudah merupakan keberuntungan bagi para penambangnya. Emas itu logam. Logam itu banyak, ada besi, baja, seng, aluminium, tembaga, dan lain-lain. Kalo masih bersaudara, masih bisa dong didandani, dirias, diberi baju kakaknya. Seharusnya dia sedikit mirip kakaknya si Emas. Oleh karena itu, goal pertama dalam ilmu ini adalah perubahan logam biasa menjadi logam berharga, seperti emas dan perak. Mengurung diri, mencari bahan-bahan aneh, bahkan memanggil roh Merlin si Penyihir, jadi jalan yang dihalalkan oleh para alchemist. Yah, sapa tau berhasil…

Brak! Pintu lab itu terbanting kencang. Sepi memang sih. Sudah hampir jam 8 malam. Hanya orang nekad dan satpam saja yang berani masuk sini. Yang membanting pintu tadi adalah aku. Ku ambil jaket lab dan ku hampiri meja guru yang dari tadi terlihat sosok yang tidak biasa. Sedang duduk di situ, seorang kecil, berjanggut putih lebat, dan memakai topi aneh. Ini dia Nicolas Flamel. Dia hanya tersenyum kecut, sambil berkata dalam bahasa Prancis yang anehnya bisa ku mengerti. “Bersih juga ruangan ini”. Sial, aku benar-benar bekerja keras untuk membersihkan sisa-sisa eksperimen akibat ledakan kemarin. “Untung saya bisa maklum, dan kamu memang seharusnya dapat kesempatan kedua”. Fuiihh…ku menarik napas lega. Tiba-tiba Nicolas menunjuk ke arah baskom kuningan. “Hey, berusahalah untuk mengubah itu”. Di dalam baskom, terdapat lempengan logam. Dari raut wajah Nicolas, aku sudah tahu apa yang dia suruh. Lempengan logam harus jadi emas batangan. Damn…okey…kita ambil langkah per langkah. Langkah-langkahnya pun habis. Aku melirik ke Nicolas. “Hey, kerjalah dulu. Jalan pun bukan cuma itu aja. Apapun bisa terjadi, nak!”. Apa iya ya? Ku ulangi semua usahaku. Celup sana, celup sini. Aduk sana, aduk sini. Sedikit demi sedikit, terlihat sedikit warna emas. Ah, masih banyak bagian yang harus dilengkapi supaya bisa menjadi batangan emas. Itupun harus sempurna, karena bisa hilang sewaktu-waktu. Memang perlu waktu, usaha, dan tenaga, serta niat. Nicolas hanya bisa tersenyum di ujung sana. Senyum penyemangat, mungkin…

Chemistry is a kind of alchemy.

Iklan

the circle of moments

September 12, 2006

Round and round
Things goes circle
If you can forward it
Reverse it
Or even stop it
Can I have your number please?

The moment
Anything goes by the moment
Cycling around
Leaving me alone
If you can find it,
Can I have your business card?

Now
I’m running on this circle
Trying to catch up a guy named
Moment
Then I’ll tell him to
Lead me to
my destination
My aim
That unusually
Devoted to a moment

anantha’s musical journey

September 3, 2006

Ini bukan cerita atau kisah perjalanan hidup gue disertai iringan musik…bukan juga perjalanan gue bermain musik…Ini adalah perjalanan mendengarkan musik dari lahir ceprot sampe menginjak twenty something seperti saat ini. Selamat mengikuti…

masa kecil yang polos dan imut2

Gue dulu suka banget dengan film-film Disney, sampe beranggapan kalo udah nonton filmnya, maka harus beli albumnya. seperti OST Lion King

dan OST Aladdin…

Nyokap gue dengan santainya juga menjejalkan beberapa aliran yang sepantasnya anak kecil tidak menerimanya, seperti album Greatest Hits-nya Queen

dan album A Touch of David Foster (damn..gue merasa ini adalah penyebab ke-mellow-an gue selama ini…)

Itu tadi dari sisi nyokap. Gue baru membongkar koleksi kaset bokap pas kelas 6 esde. Putar kaset sana sini, dan menemukan beberapa album yang menarik, seperti Sergio Mendes-Brasileiro

cukup world music bukan? tapi setelah itu, selera gue semakin world music ketika gw mendengarkan beberapa album Kitaro, seperti Dream

Untungnya gue gha seeksperimental itu. Gue masih suka dengan musik mainstream yang masih gue temukan dari koleksi bokap, seperti si tante cantik bernama Sade Adu…

dan mbahnya para boyband seperti Color Me Badd (Young, Gifted, and Badd)

dan Shai (dmn gue mengenal pertama kali lagu yg berjudul “Sex” yang saat itu gue juga gha tau artinya…hahaha…)

Satu lagi..gue selalu ditanamkan untuk mencintai satu penyanyi yang menurut bokap dan nyokap gue, adalah terbaik di dunia. Siapa dia? dia adalah orang ini…

Oom Sting! All Hail Sting! hahaha…

masa remaja yang aneh
Pas menginjak SMP dan SMA, tidak ada lagi pemaksaan selera musik (sebenernya gha dipaksa juga, cuma dijejali…hehehe…). Gue bebas mendengar aliran apa saja. Pertama kali beli kaset dengan uang sendiri adalah album ini…

Oasis lah yang membuka mata gue dengan dunia Britpop. Britpop sedang maraknya saat itu, hingga gue sempet ingin memponikan rambut ala Mas Liam, cuma yah rambut kriwil-kriwil ini tidak bisa diajak kompromi…sehingga poninya pun berbentuk sangat aneh. Ska pada saat itu juga sedang merajalela. Pensi penuh dengan cowo-cowo berbaju pantai yang siap berpogo. Lama kelamaan, gue mikir…sampai kapan gue harus mengikuti setiap musik yang sedang ngetrend…masak setiap kali muncul musik baru, harus ganti kulit? Ok, sekarang saatnya untuk mencari aliran musik yang beda sama sekali. Suatu ketika, gue menemukan musik yang dibawakan oleh mas yang satu ini…

Damn…langsung gue borong semua albumnya. Soundnya sangat beda, bisa pelan, bisa bener-bener nge-beat. Gue jatuh cinta banget sama Jamiroquai (sampai sekarang). Dari mereka juga, gue mempelajari apa yang dinamakan ‘Acid Jazz’ yang masih mempengaruhi kuping gue ampe sekarang. Buat mengimbangi pikiran musik gue supaya gha terlalu fanatik, gue membeli beberapa album yang menurut gue ‘keras berirama’, seperti Filter dalam albumnya Title of The Record

dan the funky band bernama Incubus. Album Morning Viewnya emang ngepop, cuma kalo enak didenger, apa salahnya…

Ah..betapa banyaknya perubahan di masa ini. Namun belum sebanding dengan yang terjadi di stage berikutnya…

masa kuliah yang semakin aneh

Di masa yang sampe sekarang masih gue alami, gue ibaratnya seekor babi kelaparan. Semua musik gue telen bulet-bulet. Hasilnya? gue semakin gendut, montok, dan berisi. Ya ngga lah! Selera gue jadi bervariasi parah. Pertama gue menelan hasil diversifikasi aliran dari Jazz yang bernama nu-jazz, yang salah satunya dipopulerkan oleh komplotan asal Berlin yang bernama Jazzanova…

Kedua, gue menemukan kembali semangat Brit-pop yang sekian lama terpendam. Gue gha dengerin Oasis lagi sih, tapi gue beralih ke mbah-nya Oasis yang bernama The Smiths.

Ketiga, gue berkenalan lagi dengan aliran baru yang ternyata gha baru-baru amat juga, bernama post-rock. Uniknya aliran ini adalah bagaimana mereka mencampurkan beat rock dengan nada-nada gitar jazz, bass yang nge-funk, dengan gebukan drum punk. Bingung kan? Salah satu band post-rock yang sering gue denger adalah Sea and The Cake..

yang di album “Oui” yang dirilis tahun 2000, mereka ngebawain musik yang lebih cocok disebut jazz dibandingkan dengan rock…

Ah…sampai segini dulu perjalanan musik gue. Mungkin di masa mendatang akan terjadi revolusi musik di pikiran gue. Bisa saja tiba-tiba gue cinta sama country (idih..amit-amit) atau dangdut (kalo yg nyanyi Titi Kamal sih, gak apa-apa…hehehe…). Yang pasti alat utama untuk mendengarkannya adalah ini…

Hehehehe…

Greetings!

mari bermain ular tangga

September 3, 2006

Udah pernah maen ular tangga? Gue inget banget kalo mainan ini dibundel jadi satu sama halma atau bahkan monopoli. Jadi pas bangkrut dalam mainan monopoli, gue langsung balik kartonnya. “Gha pake duit dan seru!” itu alasan gue kepada temen2 gue yang pada bokis kalo maen monopoli. Yah gue gha jago2 amat sih. Namanya juga mainan, terlebih umurnya gha panjang setelah kemudian masuk si stasiun bermain dari Sony. Bye-bye board game…

Suatu ketika, gue terpikir. Apa ada permainan yang bisa melukiskan apa yang terjadi di hidup. Timbul beberapa permainan yang ‘bermain’ di otak gue. Even gue inget kembali sebuah game PS yang disebut “Game of Life”. Mmm…entah mengapa gue merasa ular tangga-lah yang paling mewakili hidup gue, atau setidaknya untuk urusan ‘yang satu itu’

Akhir-akhir ini gue bermain ular tangga lagi. Gue memasang buah bidak di kolom start dan mulai mengocok dadu. Muncul angka empat. Bidak pun bergerak empat kolom ke depan. Kolomnya berwarna biru, agak pudar mgkn karena kualitas cetakan kartonnya yang pas-pasan. Di situ, tergambar sebuah tangga. Tangga kuning yang nampak siap untuk dinaiki. Gue pun tersenyum. Inilah kesempatan gue. Gue bawa bidak menaiki tangga yang berujung kira-kira lima kolom. Tibalah gue di sebuah kolom kuning. Gue makin tersenyum. Ini adalah langkah yang bagus dan fantastik. Dengan kepercayaan diri yang menggebu-gebu, gue kocok lagi dadunya. Tak! Muncullah angka dua. Gue langkahkan bidak dengan harapan besar di ubun-ubun. Damn…gue tiba di suatu space, warnanya merah dan ditempati seekor ular, entahlah dari spesies apa, apakah sanca, piton, anaconda, atau kobra, pokoknya dia tampak marah dan…panjang…Yup, gue terlempar. Salah langkah. Jauh ke bawah. Gue kumpulkan lagi semangat yang sempat terpecah, gue rekatkan jadi satu. Gue terjatuh di suatu tempat, yang entah mengapa gue bersyukur bisa jatuh di situ. Gue jatuh di kolom start. Napas panjang ku hela. Gue bangkit. Gue tiup luka di kaki dan tangan, cukup sakit tapi seberapa. Gue ambil dadu yang terserak. Gue kocok lagi…Tak!…angka tiga. Gue melangkah dengan semangat yang sama dan menemukan…sebuah kolom kosong, tak ada tangga apalagi ular di situ. Damn. Tapi yah sudahlah gue akan terus bermain, berharap akan ada tangga dan bisa melewati segala ular yang ada sampai di ujung nanti…

Sampai saat ini, gue masih terus memegang dadu dan selalu mengocoknya dengan harapan dan semangat yang sampai saat ini masih terus ada…semoga…

NP: Fat Freddy’s Drop – Del Fuego