(FF) Tanggal 4 Bulan Itu

Oktober 14, 2010

Brak!

Napas terengah-engah. Ramai semerbak bau keringat, Rheumason, dan minyak angin.

Brak!

Meja penuh kertas. Selendang buluk di mana-mana. Ah… sekumpulan kertas merah di tangan-tangan keriput itu sungguhlah menarik.

Ctang!

Ngga percuma kemarin mengasah golok, hanya 5 ribu. Semurah itu untuk membuat kantung kemih uzur itu sembarangan keluar.

Ayo! Ayo! Ayo!

Cepat! Aksi ini harus lekas selekas lekasnya. Malu diriku berjudi rezeki di tempat reyot ini.

Slab! Slab! Slab!

Kiri penuh, kanan penuh. Selamat tinggal orang-yang-dapat-uang-tanpa-bekerja. Lebih mulia diriku yang berusaha meski memaksa. Ha ha ha.

Jleb!

Argh!

Brak!

Ku raih punggungku. Sebilah tongkat bambu, mirip punya bapakku dulu. Sayangnya yang ini, berujung tajam.

Argh!

Rasa sakit ini lebih nyata dari dua gelas oplosan tadi pagi.  Kertas-kertas bertaburan. Kabur ku lihat tulisannya “Tanda Terima Pensi… Angkatan Ber…”

Prok! Prok!

Tiba-tiba si kakek terwujud di mataku. Tercium sepatu lars tua. Aku bisa merasakannya karena dia meletakkannya pas di hidungku. Senyum tua itu tersungging, sebelum dia mengayunkan kakinya tinggi dan lebih tinggi…

BRUK!

**Untuk diikutsertakan dalam lomba Flash Fiction Blogfam MPID**

Photobucket

PixieFixie

Juli 20, 2009

pixie |ˈpiksē| (also pixy)
noun ( pl. pixies)
a supernatural being in folklore and children’s stories, typically portrayed as small and humanlike in form, with pointed ears and a pointed hat, and mischievous in character.

Frame and fork: old SunTour road frame+fork
Headset: Tange threaded
Stem: Non-branded polished road stem
Handle bar: Kalloy 6061 PG
Grips: Funn
Wheel: (F) Rigida Star 19 700c Black + Shimano Tiagra (R) Rigida Star 19 700c Black + Quando MTB Front Hub Converted
Tire: Maxxis Detonator 700×23C
Cranks: Truvativ Touro 165mm Silver
Bottom bracket: Truvativ Power Spline
Chainring: Truvativ 48T Track Silver
Cog: Non-branded Six-bolt Drilled 18T
Chain: Genio
Saddle: Velo Plush White
Seat post: Genio
Pedals: VP
Toe clips: Cat Eye Black
Strap: Cat Eye Yellow

a gory copywriter

November 10, 2008

Mumpung masih suasana Haloween, saya akan ngasih tahu pekerjaan paling mengerikan di seluruh dunia…yang terbentuk akibat perbuatan satu orang!

Tukang daging jadi pembunuh mutilasi? Bukan. Ustad jadi dalang pemboman? Bukan juga.

Pekerjaan paling mengerikan di seluruh dunia adalah copywriter.

What?

Seseorang dengan fisik tidak menyakinkan, rata-rata berkacamata minus karena terlalu banyak terekspos layar CRT, dan menumpuk kamus di meja kantornya adalah pekerjaan paling mengerikan???

Thanx to this guy…

Herschell Gordon Lewis. Si kakek ini terkenal sebagai salah satu ahli pemasaran dan copywriting terkemuka di dunia (dia sendiri yang ngomong). Dia sudah menulis banyak buku, yang banyak di antaranya jadi text book kuliah. Jadi bagi yang kuliah komunikasi periklanan, silakan cek bibliografi skripsi atau TKA anda, jangan-jangan salah satu buku si kakek ini masuk di dalamnya.

Si Aki yang menyebut dirinya “the world’s best known copywriter” (sombong amat ni orang…ckckck) ternyata punya sisi gelap yang mengerikan! Inilah bukti “kekejamannya”…

Oh ya, jangan dibuka pas lunch! Ups…keburu ngeliat ya…hehehehe…

Itu baru sebagian kecil dari “kekejaman” Mr. Herschell yang juga terkenal sebagai “Godfather of Gore”. Ciri filmnya, khas “B” movie dengan darah, cewek cantik, organ berceceran, nude scene, darah lagi, psycho/monster/zombie/iblis, lagi-lagi darah, dst dsb. Produksi filmnya terbentang dari rentang tahun 1960 hingga 1972, dengan lebih dari 30 judul. Dia kemudian pensiun dan meneruskan pekerjaan “normal”-nya sebagai penulis buku copywriting. Pada tahun 2002, dia kembali rindu bau darah, dia merilis sekuel dari filmnya sendiri “Blood Feast” (1963) dan tahun 2009 nanti, nantikan film terbarunya “Blood De Madame: The Fallen Ones”.

Jadi mulai sekarang, bila anda bekerja di dunia periklanan, bersikaplah baik dengan rekan copywriter Anda. Jangan sampai dia membayangkan kepala anda terbelah dan mengeluarkan isinya! Huaarrgghh…

liriki lirik ini

Oktober 9, 2008

Beberapa hari yang lalu, gue menemukan lagu dengan lirik yang begitu naif dan straightforward…

Masih kusimpan cintaku padamu
Tak ada tempat sembunyi
Tak ada kata tunggu
Tak ada tempat berdusta
Tak ada dunia seluas ini
Jangan susahkan hatiku..

Mata hatiku mengungkapmu
Dalam hidup terombang-ambing
Orang gila macam apa engkau dan aku ?
Sangat ketakutan
Katakan mengapa ?
Jangan susahkan hatiku
Jangan susahkan hatiku

Masih kusimpan cintaku padamu

Engkau buat janji dengan pasti
Engkau melingkar dalam hatiku
Engkau menghantui pikiranku
Tidak mau hilang
Jangan susahkan hatiku..
Jangan susahkan hatiku..

Still I give my love for you
No place to hide, nowhere to go
No word to lie, no world so wide
At second time I’m telling you
Don’t let me down and down and down
Don’t let me down and down and down

Still I give my love for you
Still I give my love for you

Bisa tebak lagu siapa ini?

The one & only David Bowie…dengan judul”Jangan Susahkan Hatiku” dari album “Black Tie White Noise”

Penasaran lagunya kayak apa? Keren deh…sayang gue ngga bisa share file-nya!

*lyrics & pic courtesy of indolawas

tanggal empat

Oktober 9, 2008

Sebutkan tanggal berapa yang paling menggembirakan untuk Anda?

Gue yakin semua akan menjawab tanggal gajian…bukan?

Beda halnya dengan para pensiunan PNS/TNI, gajian mereka baru cair di kantor pos tanggal 4 setiap bulannya. Lucu ya, padahal tanggal 4 di beberapa kebudayaan Asia dianggap bersinonim sama dengan “kematian”

Tanggal empat di kalender, kakek-nini-aki-nenek senang, Julianto Priadi ikut senang…

Hari itu, tanggal empat juli dua ribu lima. Peringatan Kemerdekaan Amerika Serikat, kemerdekaan para pensiunan dari utang di warung, kemerdekaan Julianto Priadi dari rahim ibunya sembilan belas tahun yang lalu.

Rakyat Amerika membakar kembang api, Julianto Priadi boleh juga dong membakar yang lain…asap dalam bong atau asap dari lintingan kertas putih. Toh, ini kan peringatan lolosnya dia dari rahim ibunya…Susah loh lolos dari lubang sempit itu, apalagi sampai sang Ibu pun menyerahkan hidupnya.

Yuk deh datengin si Mamat yang jadi bede di Gang Kalimati, cuman…gile apa doku dari mane…

Tanggal empat, doku…tanggal empat, gajian…tanggal empat, pensiunan gajian…tanggal empat, pensiunan punya uang!

Lho kok tau tanggal empat itu tanggal keramat? Kan biasa jadi t’kang parkir di depan kantor pos saban bulannya, ngatur bajaj, motor sampai sepeda onthel yang berceceran tak beraturan…

Ambil uang…dari kantor pos…jatahnya pensiunan….udah tua ini…ga bisa ngelawan…golok di tangan…ga ada satpam…lari…langsung ke Mamat…Mat, yang paling mahal lu punya…dan Mmmmm….

“Hoek!”

BLUK!

Julianto Priadi jatuh terjerembab. Dia memuntahkan darah segar dari mulutnya. Pandangannya kabur. Bau anyir merasuk ke hidungnya. Kemudian gelap…

====

“Jadi tadi kejadiannya gimana sih Pak?”

“Nah lagi antri gitu kan, tiba-tiba masuk si tukang parkir sambil bawa golok, treak-treak ga jelas…namanya orang-orang tua ya panik…ya udah kasih aja duit yang barusan diambil, Pak Udin kasir kena sabet tu pipinya”

“Jadi diambil semua duitnya?”

“Iya…heran aja kok ngga kasian sama kita-kita…jadi syukurin udah koit dia…”

“Kok bisa ada yang ngelempar tongkat sampai nembus punggungnya si rampok?”

“Oh itu…iya, kan udah diambil semua duitnya…pas mau lari ke depan, si pak…um..um…yg kolonel itu sapa namanya…ah Kolonel Mahmud! Hebat dia, umur 82 masih ngambil pensiun sendiri, jalan 5 kilo dari rumah, katanya pernah ilang di hutan Irian sana ampe 3 bulan”

“Jadi Pak Mahmud ini yang bunuh si rampok?”

“Iya…nah saya jadi inget mas, dia prnh cerita pas dia ilang, dia dirawat sama orang-orang asmat, diajarin berburu…kayaknya dia cinta bener sama daerah sana, orang-orang minta dipindahin ke pusat, dia malah di korem sana…trus dia pernah nunjukin tongkat jalan-nya dia, yang ternyata dimodif dari tombak asmat”

“Mmm…”

“Pas kena punggungnya kan? Dia bisa tau titik mematikan dari manusia, mas…salut saya ama dia…”

“Oh, kalo begitu segini aja pak, saya permisi dulu, terimakasih…eh maaf pak…nanya satu lagi”

“Apa itu mas?”

“Tadi Bapak lihat si rampok dihajar tidak? Sebab saya sempat bertanya kepada polisi tadi, si rampok mukanya udah ngga ada bentuknya lagi…Apa yang ngeroyok masyarakat sekitar sini pak?”

“Iya itu saya lihat…umm…bukan orang-orang sini kok, sepertinya umm…ummm…ada sih 5 orang pensiunan juga yang gebukin dia”

“Oh pensiunan juga…umm…baiklah, maaf pak, saya malah belum catet nama bapak”

“Saya Letkol Purnawirawan Subarkah…perlu saya kasih tau kesatuan saya dulu? hahaha”

“Tidak perlu pak hahaha…”

Si wartawan menulis lokasi kejadian di notes kecilnya…kantor pos dekat cilangkap, melayani khusus pensiun para purnawirawan.

RIP Julianto Priadi. Wrong man on the wrong place.

Diam. Dito terdiam di depan stand majalah. Di saku jeans-nya, ada uang 50ribu yang rencananya untuk membeli majalah. Bukan majalah biasa tentunya, tapi majalah pria dewasa! Bukan sesuatu yang shocking sih, masih lebih edan kalau dia baca Nova atau Trubus, tapi bagi Dito memilihnya bukan persoalan yang mudah. 50 ribu kan bisa buat makan di warteg deket kampus untuk beberapa hari. Jadi pengorbanan ini harus setimpal!

Nah, bagi Dito dan para early reader male mags pada umumnya, saya akan memberi review berdasarkan pengalaman membeli dan membaca those toilet magazines. Saya akan break down berdasar nama majalahnya ya…

Popular

Popular adalah pionir permajalahan pria dewasa di Indonesia. Udah dari tahun 1980an, mulai dr one piece sampe two piece, dari Sally Marcelina sampai Rahma Azhari, pokoknya udah makan asam digaramin deh…Secara umum format yang mereka usung adalah Classic, yaitu lebih banyak artikel dibandingkan pictorial page. PoseAsoy yang dijual di cover dikumpulkan di tengah majalah, yang biasa disebut centerfold. Popular menganut sistem ini sampai awal 2008, ketika mereka mulai mengadaptasi LadsMag format (penjelasan soal LadsMag akan diterangkan nanti). Kalau kamu suka model-model newbie, ini majalah buat lo. Yang saya lihat, mereka lebih suka mengorbitkan model baru di centerfold-nya dibandingkan seleb. Banyak kok yang berhasil diorbitkan majalah ini. Rata-rata fotonya mengikuti aliran Glamour alias yang udah cantik dipercantik, yang udah bohay diperbohay sebohay-bohay-nya (Note: ini definisi menurut saya ya). Ya kalau kepengen majalah yang Indonesia banget, silakan beli majalah ini…

Hilite: Artikel musiknya bagus!

Facts: beberapa modelnya terutama sekitar tahun 2007-2008an kebanyakan berasal dari Medan. I wonder why?

Harga: 35-45rb

 

FHM

Ini dia majalah pria franchise pertama di Indo. Layout dan gaya penulisannya mempelopori format LadsMag. LadsMag lebih mengutamakan pictorial page dibanding artikel (toh konsumennya lebih nyari foto-fotonya bukan?). Mulai dari buka beberapa halaman pertama, kamu sudah disambut rubrik Reporter yang berisi wawancara sangat singkat sekali (palingan cuma 5 pertanyaan) dengan pose cewenya yang segede gaban. Di dalam rubrik itu juga ada info yang rata2 ga penting, kayak hewan terlambat di dunia atau bra termahal di dunia. Selanjutnya ada rubrik head to head, dimana dua orang seleb diadu pertanyaan2 yang (tetep) ga penting kayak pernah cipokan di lift belum atau pernah makan makanan basi belum. Yang paling gila, dia lah yang menang! Seterusnya kita sambut another pictorial page, lalu artikel lepas, dilanjut another pictorial page (sigh), artikel lepas kembali sampai akhirnya hampir di belakang majalah, baru ada pictorial page-nya model cover bulan itu, sehabis itu baru fashion pages…Beda dengan format Classic yang menganut Glamour photography, LadsMag lebih natural, seakan bisa terjadi sehari-hari, meski kadang-kadang ada Glamournya juga sih. FHM lebih banyak memakai model seleb dibandingkan model newbie, namun para newbie udah punya wadahnya di GND (Girl Next Door). Menurut saya, ini majalah pria paling mending saat ini, meski sempet cupu gara-gara kejadian Majalah Kelinci diudek-udek sama Front Preman.

Hilite: kapan lagi bisa melihat seleb dengan pakaian yang kurang bahan, meliputi Dewi Sandra hingga Sandra Dewi

Facts: setiap bulan puasa, cover dan contentnya ikutan puasa juga alias ga terlalu buka-bukaan.

Harga: 45rb

 

Maxim

Majalah ini bersaing ketat dengan FHM di kancah permajalahan pria dunia. Sama-sama LadsMag format, sama-sama jor-joran artis yang lagi naek daun dipasang di covernya, dan sama-sama berasal dari Inggris! Maxim Indonesia keluar setelah FHM udah 2-3 tahun di Indonesia. Begitu pertama kali keluar, astaga…bahasanya berantakan banget! menjurus banget, sebelas dua belas dari tabloid mesum di pinggir jalan itu! Namun…pictoral pagesnya oke, enak dilihat, dan fresh dengan model-model yang belum begitu terkenal. Majalah ini sempet jatuh sampai ex Chief Editor FHM Indo, Ery Prakasa, masuk dan mengangkat Maxim menjadi…mirip FHM! Hahaha…setidaknya Mas Ery telah ngebenerin vocabulary para wartawannya jd sedikit classy. Dari skala 5, saya kasih 4 aja buat Maksim…

Hilite: saya merasa majalah ini mahasiswa banget de! Entah kenapa…mungkin dari gaya berbahasanya dan fashion pages yang (sedikit) lebih membumi

Facts: beli Maxim+FHM, anda akan mendapat double issue! (sangking samanya dua majalah tersebut)

Harga: 35-45rb

 

ME

Singkatan dari Male Emporium. Majalah yang pake embel-embel Asia di belakang namanya ini menganut format Classic. Bedanya dengan Popular yang condong ke Playboy, ME mengikuti mahzab Esquire. Majalah ini dasarnya adalah majalah yang ambisius. Dia mempekerjakan Darwis Triadi sebagai supervisor photography dan Nico, seorang perancang lingirie sebagai konsultan fashionnya. Hasilnya? Biasa aja sih…artikel-artikel (sok) berkelas dan (ke)panjang(an) serta pictorial page yang (terlalu) glamour. Model-modelnya pun seperti disharing dengan Popular. Tak jarang, ada model bulan ini di ME, besoknya berpose di Popular. Kalau anda seorang eksekutif (sok) muda, silakan beli majalah ini.

Hilite: Pictorial pages-nya bagus (ya iyalah Darwis Triadi gituuh)

Facts: majalah ini pernah punya acara behind the scene pemotretan di teve…lumayan ditunggu-tunggu dan lumayan sering digeser-geser jadi semakin malam…oh iya, kadang-kadang dapet bonus DVD loh

Harga: 40-55rb

 

Playboy (alm.)

Ini dia majalah yang gara-gara kegedean nama, jadinya kolaps (atau di-kolaps-kan?) dengan cepat. Kalau PB Worldwide punya award, mungkin PB Indo dinobatkan jadi cabang mereka yang paling sopan. Tidak ada pose seberani orang-orang duga. Sepintas malahan seperti ME. Cuma…ME, Popular kalah jauh deh dari segi fotografi dan artikel. Saya ngga ngebandingkan dengan FHM atau Maxim karena positioningnya beda. Sayang sekali napasnya cuma sampai sekian edisi, kalau ngga inilah majalah pria dewasa paling sophisticated di Indo. Kalo kamu belom pernah baca, buruan cari tukang loak sekarang! It’s gonna be collector’s items!

Hilite: artikel super panjang dan berbobot! Ngga baca artikelnya bakal nyesel berat!

Facts: beberapa eksemplar PB Indo ditemukan di markas FPI, tapi ga dijelaskan apakah majalahnya lecek dan lengket atau ngga…

Harga: around 50-60ribu

 

Berikut ini adalah majalah-majalah pria yang tidak se-hip di atas, yang pernah saya beli atau setidaknya saya baca…

EHM: ngga jelas isinya, terbit dalam edisi mini layaknya Cita Cinta, pictorial pages kebanyakan donlot dari internet

X-magazine: serupa dengan Popular dengan pictorial page setiap 3 halaman…sigh

Esquire: ini toh yang ditiru-tiru ME…hehhehe

Men’s Health: otot? males juga liatnya…hahhaa

 

Nah…sekian review dari saya. Semoga bisa membantu Anda mengambil keputusan membeli majalah pria yang diinginkan. Ingat! Gunakan sebaik-baiknya 50ribu itu ya!

Kita kembali ke Dito…jadinya beli apa ya dia?

Dito: Bang!

Abang Tukang Majalah: Ya?

Dito: Mau yang itu tuh…(sambil menunjuk ke satu majalah)

Abang Tukang Majalah: Oh itu…(kemudian mengambilkan majalahnya)

Dito: (bersorak-sorak norak) Yeee…

Abang Tukang Majalah: Yakin?

Dito: Yakinlah Bang…di edisi ini soalnya lagi ngebahas soal gelombang cinta!

Abang Tukang Majalah: Ooo gitu…kirain mau yang depannya artis A atau model X

Dito: Halah…itu ga guna! ini duitnya Bang! Makasih ya!

Dito pulang dengan langkah riang gembira, pikiran berbunga-bunga…bunga uang…karena di tangannya memegang Trubus edisi menanam dan merawat tanaman Gelombang CInta dengan usaha minimal mendapat profit maksimal!

Hidup Trubus!

orang mati meninggalkan belang

September 14, 2008

“Huh!”

Panasnya mentari siang ini…

seorang pria berhidung belang

berjalan pelan

menyusuri gang-gang sempit

sampai akhirnya dia membuka pintu sebuah rumah

“blak”

“krek”

“BLUK!”

si pria jatuh persis di depan pintu

saat sepasang mata tajam menatapnya nanar

mata milik si belang

yang kemudian menjilati wajah si pria

si belang menjilat si belang

harus ada yg melanjutkan kebelangan ini

yang pasti

belang satu hilang

muncul belang lainnya

dan siap melanjutkan rangkaian tulisan ke depan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.