anda/kamu/kau/loe
Januari 20, 2007
Yah…benar, kau! Kau yang berdiri di situ
Aku ingin bertanya, “kenapa kau hanya berdiri saja di situ sepanjang waktu?”
“Aku bisa mengajakmu berjalan-jalan, melihat-lihat gedung-gedung di ibukota, atau nongkrong di warung pinggir jalan”
“Kok diam saja? Aku tak bermaksud apa-apa. Yah daripada kau hanya berdiri situ saja”
“Aku tahu banyak peristiwa yang barusan kau lewati. Aku tahu, entahlah dari mana aku tahu, kau tak perlu tahu. Ada yang pahit meski menyenangkan. Ada yang menyenangkan meski menyakitkan. Aku tahu itu, aku tahu…”
“Aku mungkin terlalu banyak berandai-andai. Berandai-andai tentang siapa lagi kalau bukan kau. Entahlah…aku ingin menghambarkan segalanya yang pahit, memaniskan yang hambar, menambah gurih yang sudah manis”
“Apalagi yah…yang pasti aku tak ingin melihat kau terperosok. Yah terperosok. Tergelincir. Terjungkal. Apapun istilahnya. Entahlah itu karena batu, lubang, selokan, atau lubang semut yang sengaja maupun tidak, kau lewati.”
“Aku mungkin hanya punya ranting. Setidaknya aku ambil ranting itu dari pohon akasia itu. Pohon akasia yang masih muda. Masih kuat batangnya. Kuambil yang paling besar. Kutawarkan ranting itu kepada kau. Ku pegang satu ujung, kau pegang ujung satunya lagi. Biar ku tarik kau dari situ.”
“Yah mumpung kau belum terperosok. Bukan ngedoain yah. Hehehe… kau kan masih di pojok situ. Ya udah, ayo… Mari kita jalan-jalan. Beranjak dari sini. Aku juga bosan terus-terusan ada di pojokan.”
“Ayo, aku lapar nih. Kita bisa ke warung sebelah, makan gorengan, minum kopi hangat, ngobrol apa aja. Bercerita apa aja. Yah kalo bisa, sambil membersihkan kakimu yang bekas terperosok kemarin”
Ku buka tangan kananku, ku sodorkan kepadanya, sambil ku tersenyum…
Ayo…

some usual chit-chat
Januari 10, 2007
Blas!
Terang…begitu terang. Entahlah siapa yang memasang lampu neon sebegitu terangnya. Yang jelas, kakek itu terus-terusan mengucek matanya sampai merah dan berair. Dia merogoh saku celananya, tampaknya dia mencari saputangan. Tak lama dia menghela napas, dia seperti lupa ditaruh dimana kain untuk menyeka airmatanya itu.
Ruangan itu adalah sebuah ruang tunggu. Entahlah ruang tunggu apa, yang pasti ada loket yang tertera tulisan “Ambil Nomor Antrian di Sini”, maka kesimpulan sementara adalah itu ruang tunggu rumah sakit atau klinik. Kakek itu sudah duluan mengambil nomor di depan. Lagi-lagi dia menghela napas, mungkin nomornya jelek alias masih jauh dari nomor di layar monitor yang hampir tak kelihatan gara-gara terangnya lampu ruang itu. Si kakek menerawang ke arah kursi-kursi yang berjejer. Tak ada siapa pun. Sepi. Dia hendak menghela napas panjangnya lagi sampai tiba-tiba dia melihat ke satu sudut. Di situ, seorang tua sedang tersenyum ke arahnya sambil menunjuk kursi kosong di sebelahnya. Mmmm…ngapain juga yah duduk sendirian, mendingan ngobrol sama orang itu. Dia membalas dengan senyum sambil berjalan ke arah orang tua itu.
Seorang hitam. Maksud saya, seorang berkulit hitam. Rambutnya ikal, agak panjang, dan oohh… dia tersenyum lagi… Lebar sekali senyumnya…
Orang Tua (OT): Hahahaha….akhirnya ada orang! God Bless Me! Hahahaha….
Kakek (K): Ya..ya…hehehe…aneh juga ya, sepi tapi kok saya dapet nomor segini (sambil memperlihatkan kupon antriannya)
OT: Hahaha…saya juga baru datang…nomornya cuma beda satu nih…tapi kok masih jauh ya kayaknya (sambil melirik ke layar monitor)
K: Ada yang ngambil terus ditinggal kali. Hehehe…heran yah…perasaan saya udah pernah liat saudara, tapi dimana yah?
OT: Hahahaha….gha heran, saya itu terkenal…orang-orang hormat ke saya, terus jadiin saya raja…pelindung mereka…jangan heran pak…jangan heran…hahhaaha…
K: Wah… Pantas kalo begitu. Saya juga dulu raja loh. Punya kuasa dimana-mana, ditakuti, dijunjung, dihormati. Rasanya sejuta, semilyar, setrilyun malahan…. Hahaha… Tau juga kan rasanya?
OT: Pasti! Saya merasakan sekali! Kalau saya sudah beraksi yah…huh! Semua orang langsung memuja saya! Hahahaha…
K: Mungkin karena saudara pake baju seperti itu…
OT: Baju ini? Memang sih terasa ribet dan berat, tapi yah…inilah identitas saya…orang gak bakal ngerti kalo saya gak pake ini! Ya, orang lebih senang melihat sesuatu yang tidak biasa, yang lebih terang, yang lebih-lebih lainnya lah…Hahaha…
K: Betul juga sih. Saya juga senang berbuat tidak biasa, saya suka menantang sesuatu yang lebih besar, kuat, pokoknya lebih dari saya…
OT: Hahaha…bagus itu…tapi pernah menang gak?
K: Pernah sih. Untuk beberapa waktu. Sekarang ini, ummm…tampaknya sih tidak…
Ting, tong, ting, tong! Suara bel tiba-tiba berbunyi. Monitor lalu menunjukkan nomor baru.
OT: Nah…Thank God! Itu nomor saya! Duluan ya Pak! Hahaha…
K: Wah silahkan… Cepat sekali yah, padahal saya aja belom tau nama saudara…
OT: Hahaha… Orang biasa memanggil saya Godfather. Saya sering dan selalu menyanyi soul. Jadilah Godfather of Soul! Hahaha… Saya sebenarnya tahu Anda entah dimana, tapi dasar otak tua, sudah lupa saya. Hahaha…
K: Saya tak mau kalah dengan Anda. Saya juga punya julukan. Singkat saja, Jendral dari Baghdad!
OT: Ah… Pantas saja! Ah, saya sudah dipanggil. Nice to know you! Saya tak mengira Anda sebaik ini… Hahaha…
K: Memang, semua orang selalu berpikiran salah tentang saya. Selamat jalan Pak, sampai ketemu nanti!
OT: Hahaha… Tenang saja! God Bless You!
Si orang tua berjalan mantap menuju pintu yang sudah terbuka dari tadi. Pintu yang terang sekali.
Jleg! Sekarang sudah tertutup lagi.
Ah! Menunggu lagi! Pikir si kakek dalam otaknya. Dia memejamkan matanya yang masih kesilauan. Lalu menarik napas panjang. Lalu membuka matanya kembali.
Seorang wanita muda tersenyum padanya. Di belakangnya ada beberapa, tak hanya satu dua orang, hampir ratusan orang, tua muda, semuanya tersenyum sambil menatap dirinya.
Si kakek lega akhirnya ada yang mau menemaninya. Tersenyumlah dia. Senyum kesekian yang dikeluarkan hari itu.
RIP James Brown, Saddam Hussein, Alda Rizma, dan penumpang Adam Air PK-KKW
salah milis
Januari 10, 2007
Ketika gue membuka daily digest dari sebuah milis majalah pria, ada sebuah kejanggalan seperti di bawah ini…

mungkin si orang ini sudah putus asa, tak tahu harus mengirim kemana. Maka bergabunglah permintaan dia magang dengan penawaran sex toys dan DVD Maria Ozawa terbaru…
Ironis!
two double-o seven
Desember 31, 2006
Ah…akhirnya ganti kalender lagi…berakhir lagi satu tahun yang banyak lumayan beberapalah kesan tercipta…
Gue punya banyak harapan buat tahun besok, mulai dari bangkit dari sekian lama duduk di bangku kuliah, mulai belajar mencari sesuap nasi di rimba Jakarta ini, sampai ehm…. bab baru dalam babad percintaan ingsun.
Resolusi? Kenapa semua orang pasti punya resolusi ketika hendak ganti tahun? Gue sendiri bisa dibilang tak punya resolusi. Seiring berjalannya waktu dalam setahun, gue selalu berulang kali berganti resolusi. Umpamanya, beberapa tahun yang lalu, resolusi utama gue adalah bisa menyetir dengan baik dan benar berdasarkan Cara Belajar Siswa Aktif dan kurikulum 1994 (halah!). Tau-tau…bulan apa gitu gue lupa, Pemerintah menaikkan BBM! Gha tanggung-tanggung, 100%! Gila…isi bensin sebuah Mitsubishi Lancer ‘92 full tank dari hanya 50rb menjadi 100rb! Hancurlah resolusi gue…mo makan apa kalo bawa mobil mesti beli bensin…Duit jajan juga stabil lagi (baca: tidak naik)
Plin-plan? Bisa dibilang begitu…
Tapi, ada satu resolusi yang gue pertahankan dari tahun ke tahun. Orang-orang udah memposisikan gue di antara mau menyaluti dan mau mengkasihani karena resolusi tersebut. Nah…ini salah satu yang berkesan di 2006 kemarin! Gue akhirnya bisa “melanggar” resolusi yang satu itu. Memang susah, cuma pada akhirnya sangat melegakan.
Gue sekarang sudah duduk menghadap meja, sebuah ballpoint Boxy dan secarik kertas file ada di sebelah kanan gue, gue tarik kertasnya, gue ambil ballpoint, lalu gue lepas tutupnya, dan mulai gue gores kertas kosong itu…
2007 is for…
Something
Someone
Somewhere
———————
Happy New Year!
ACY (Aku Cinta Yeah Yeah Yeahs..eh Yndonesia!)
Nopember 24, 2006
Tau Yeah Yeah Yeahs? Gha tau juga gak papa…hehehe… Yah let me tell a bit about this group. Mereka adalah sebuah grup band asal NY yang ngebawain musik yang konon disebut avant garde garage rock. Pastinya yang kupingnya Top 40 akan bilang “Busyet bujubuneng, lagu apaan nih…” Yeah, meskipun begitu, banyak loh yang suka. Suatu kali di kampus, gue pernah ngeliat cewe yang mencoret sepatu Conversenya dgn spidol hitam bertulisan yah itu…Yeah Yeah Yeahs! Dan boong banget kalo lo ke mall gha pernah melihat ada cewe-cewe yang bergaya seperti mbak yang di tengah..

yah rambutnya atau gaya berpakaiannya lagi ditiru abis lah…
Sebenernya yang gue pengen kasih tau bukan soal band ini, tapi tentang si gitarisnya. Namanya Nick Zinner. Profesi tentu saja gitaris. Kalo profesi terselubung? Nah pasti belum tau kan? Pekerjaan Nick yang tak banyak orang tau adalah sebagai…jeng jeng…duta pariwisata Indonesia!
Heh? Nick dulu sempat sekolah di JIS dan menetap di Jakarta dan Bali selama beberapa tahun. Dia sangat sangat suka dengan Indonesia, sampai seperti ini…

Ini adalah foto close-up dari gitar yang dimainkan Nick di salah satu show Yeah Yeah Yeahs. Sebelah atas bisa dilihat stiker “I Love Indonesia”, di bawah kanan ada stiker ‘fenomenal’ (pada jamannya) yaitu “50 tahun Indonesia Merdeka”! Mungkin dia dapet dari membayar listrik atau PBB…hehehe…Melihat dari stikernya, mungkin Nick ada di Indonesia sekitar tahun 1995.
Tak sadar dan tak dibayar, Nick Zinner telah mengiklankan Indonesia di luar sana. Tak tanggung-tanggung, promosinya masuk langsung ke kalangan musik indie!
Thanx Nick!
alchemy for a fool
September 12, 2006
![]()
Pertanyaan pertama! Apakah itu alchemy? Wah susah yah, kecuali bagi yang udah pernah baca Harry Potter. Yup, kinda witchcraft things. Secetek itukah? Tanyakan pada Nicolas Flamel. Bercanda? Tidak, ini serius. Nicolas Flamel pernah hidup dan bernapas di dunia ini pada masa pertengahan. Dia dikenal sebagai ahli alchemy terkemuka di jamannya, bersama dua orang santo (atau bukan yah) bernama Albertus Magnus dan Thomas Aquinas. Terus apa itu sebenernya alchemy? Ketika orang belum berteori ria tentang hukum-hukum fisika, beberapa orang nekad mencoba mengubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, dari mimpi menjadi kenyataan, dengan memakai segala cara mulai dari bener-bener eksperimen sampai berkomat-kamit baca mantra. Itulah para alchemist yang mempraktekkan tentu saja, alchemy.
Impian orang pada masa itu adalah emas. Semua materi dinilai dengan emas. Mungkin karena bentuknya yg cemerlang, jernih (minyak goreng aja dibilang jernih kalo berwarna emas), dan susah dicari. Di jaman alat-alat pertambangan belum sedikit pun terpikir, secuil emas saja sudah merupakan keberuntungan bagi para penambangnya. Emas itu logam. Logam itu banyak, ada besi, baja, seng, aluminium, tembaga, dan lain-lain. Kalo masih bersaudara, masih bisa dong didandani, dirias, diberi baju kakaknya. Seharusnya dia sedikit mirip kakaknya si Emas. Oleh karena itu, goal pertama dalam ilmu ini adalah perubahan logam biasa menjadi logam berharga, seperti emas dan perak. Mengurung diri, mencari bahan-bahan aneh, bahkan memanggil roh Merlin si Penyihir, jadi jalan yang dihalalkan oleh para alchemist. Yah, sapa tau berhasil…
Brak! Pintu lab itu terbanting kencang. Sepi memang sih. Sudah hampir jam 8 malam. Hanya orang nekad dan satpam saja yang berani masuk sini. Yang membanting pintu tadi adalah aku. Ku ambil jaket lab dan ku hampiri meja guru yang dari tadi terlihat sosok yang tidak biasa. Sedang duduk di situ, seorang kecil, berjanggut putih lebat, dan memakai topi aneh. Ini dia Nicolas Flamel. Dia hanya tersenyum kecut, sambil berkata dalam bahasa Prancis yang anehnya bisa ku mengerti. “Bersih juga ruangan ini”. Sial, aku benar-benar bekerja keras untuk membersihkan sisa-sisa eksperimen akibat ledakan kemarin. “Untung saya bisa maklum, dan kamu memang seharusnya dapat kesempatan kedua”. Fuiihh…ku menarik napas lega. Tiba-tiba Nicolas menunjuk ke arah baskom kuningan. “Hey, berusahalah untuk mengubah itu”. Di dalam baskom, terdapat lempengan logam. Dari raut wajah Nicolas, aku sudah tahu apa yang dia suruh. Lempengan logam harus jadi emas batangan. Damn…okey…kita ambil langkah per langkah. Langkah-langkahnya pun habis. Aku melirik ke Nicolas. “Hey, kerjalah dulu. Jalan pun bukan cuma itu aja. Apapun bisa terjadi, nak!”. Apa iya ya? Ku ulangi semua usahaku. Celup sana, celup sini. Aduk sana, aduk sini. Sedikit demi sedikit, terlihat sedikit warna emas. Ah, masih banyak bagian yang harus dilengkapi supaya bisa menjadi batangan emas. Itupun harus sempurna, karena bisa hilang sewaktu-waktu. Memang perlu waktu, usaha, dan tenaga, serta niat. Nicolas hanya bisa tersenyum di ujung sana. Senyum penyemangat, mungkin…
Chemistry is a kind of alchemy.
the circle of moments
September 12, 2006

Round and round
Things goes circle
If you can forward it
Reverse it
Or even stop it
Can I have your number please?
The moment
Anything goes by the moment
Cycling around
Leaving me alone
If you can find it,
Can I have your business card?
Now
I’m running on this circle
Trying to catch up a guy named
Moment
Then I’ll tell him to
Lead me to
my destination
My aim
That unusually
Devoted to a moment
anantha’s musical journey
September 3, 2006
Ini bukan cerita atau kisah perjalanan hidup gue disertai iringan musik…bukan juga perjalanan gue bermain musik…Ini adalah perjalanan mendengarkan musik dari lahir ceprot sampe menginjak twenty something seperti saat ini. Selamat mengikuti…
masa kecil yang polos dan imut2
Gue dulu suka banget dengan film-film Disney, sampe beranggapan kalo udah nonton filmnya, maka harus beli albumnya. seperti OST Lion King

dan OST Aladdin…

Nyokap gue dengan santainya juga menjejalkan beberapa aliran yang sepantasnya anak kecil tidak menerimanya, seperti album Greatest Hits-nya Queen

dan album A Touch of David Foster (damn..gue merasa ini adalah penyebab ke-mellow-an gue selama ini…)

Itu tadi dari sisi nyokap. Gue baru membongkar koleksi kaset bokap pas kelas 6 esde. Putar kaset sana sini, dan menemukan beberapa album yang menarik, seperti Sergio Mendes-Brasileiro

cukup world music bukan? tapi setelah itu, selera gue semakin world music ketika gw mendengarkan beberapa album Kitaro, seperti Dream

Untungnya gue gha seeksperimental itu. Gue masih suka dengan musik mainstream yang masih gue temukan dari koleksi bokap, seperti si tante cantik bernama Sade Adu…

dan mbahnya para boyband seperti Color Me Badd (Young, Gifted, and Badd)
dan Shai (dmn gue mengenal pertama kali lagu yg berjudul “Sex” yang saat itu gue juga gha tau artinya…hahaha…)

Satu lagi..gue selalu ditanamkan untuk mencintai satu penyanyi yang menurut bokap dan nyokap gue, adalah terbaik di dunia. Siapa dia? dia adalah orang ini…

Oom Sting! All Hail Sting! hahaha…
masa remaja yang aneh
Pas menginjak SMP dan SMA, tidak ada lagi pemaksaan selera musik (sebenernya gha dipaksa juga, cuma dijejali…hehehe…). Gue bebas mendengar aliran apa saja. Pertama kali beli kaset dengan uang sendiri adalah album ini…

Oasis lah yang membuka mata gue dengan dunia Britpop. Britpop sedang maraknya saat itu, hingga gue sempet ingin memponikan rambut ala Mas Liam, cuma yah rambut kriwil-kriwil ini tidak bisa diajak kompromi…sehingga poninya pun berbentuk sangat aneh. Ska pada saat itu juga sedang merajalela. Pensi penuh dengan cowo-cowo berbaju pantai yang siap berpogo. Lama kelamaan, gue mikir…sampai kapan gue harus mengikuti setiap musik yang sedang ngetrend…masak setiap kali muncul musik baru, harus ganti kulit? Ok, sekarang saatnya untuk mencari aliran musik yang beda sama sekali. Suatu ketika, gue menemukan musik yang dibawakan oleh mas yang satu ini…

Damn…langsung gue borong semua albumnya. Soundnya sangat beda, bisa pelan, bisa bener-bener nge-beat. Gue jatuh cinta banget sama Jamiroquai (sampai sekarang). Dari mereka juga, gue mempelajari apa yang dinamakan ‘Acid Jazz’ yang masih mempengaruhi kuping gue ampe sekarang. Buat mengimbangi pikiran musik gue supaya gha terlalu fanatik, gue membeli beberapa album yang menurut gue ‘keras berirama’, seperti Filter dalam albumnya Title of The Record

dan the funky band bernama Incubus. Album Morning Viewnya emang ngepop, cuma kalo enak didenger, apa salahnya…

Ah..betapa banyaknya perubahan di masa ini. Namun belum sebanding dengan yang terjadi di stage berikutnya…
masa kuliah yang semakin aneh
Di masa yang sampe sekarang masih gue alami, gue ibaratnya seekor babi kelaparan. Semua musik gue telen bulet-bulet. Hasilnya? gue semakin gendut, montok, dan berisi. Ya ngga lah! Selera gue jadi bervariasi parah. Pertama gue menelan hasil diversifikasi aliran dari Jazz yang bernama nu-jazz, yang salah satunya dipopulerkan oleh komplotan asal Berlin yang bernama Jazzanova…

Kedua, gue menemukan kembali semangat Brit-pop yang sekian lama terpendam. Gue gha dengerin Oasis lagi sih, tapi gue beralih ke mbah-nya Oasis yang bernama The Smiths.

Ketiga, gue berkenalan lagi dengan aliran baru yang ternyata gha baru-baru amat juga, bernama post-rock. Uniknya aliran ini adalah bagaimana mereka mencampurkan beat rock dengan nada-nada gitar jazz, bass yang nge-funk, dengan gebukan drum punk. Bingung kan? Salah satu band post-rock yang sering gue denger adalah Sea and The Cake..

yang di album “Oui” yang dirilis tahun 2000, mereka ngebawain musik yang lebih cocok disebut jazz dibandingkan dengan rock…

Ah…sampai segini dulu perjalanan musik gue. Mungkin di masa mendatang akan terjadi revolusi musik di pikiran gue. Bisa saja tiba-tiba gue cinta sama country (idih..amit-amit) atau dangdut (kalo yg nyanyi Titi Kamal sih, gak apa-apa…hehehe…). Yang pasti alat utama untuk mendengarkannya adalah ini…

Hehehehe…
Greetings!

mari bermain ular tangga
September 3, 2006

Udah pernah maen ular tangga? Gue inget banget kalo mainan ini dibundel jadi satu sama halma atau bahkan monopoli. Jadi pas bangkrut dalam mainan monopoli, gue langsung balik kartonnya. “Gha pake duit dan seru!” itu alasan gue kepada temen2 gue yang pada bokis kalo maen monopoli. Yah gue gha jago2 amat sih. Namanya juga mainan, terlebih umurnya gha panjang setelah kemudian masuk si stasiun bermain dari Sony. Bye-bye board game…
Suatu ketika, gue terpikir. Apa ada permainan yang bisa melukiskan apa yang terjadi di hidup. Timbul beberapa permainan yang ‘bermain’ di otak gue. Even gue inget kembali sebuah game PS yang disebut “Game of Life”. Mmm…entah mengapa gue merasa ular tangga-lah yang paling mewakili hidup gue, atau setidaknya untuk urusan ‘yang satu itu’
Akhir-akhir ini gue bermain ular tangga lagi. Gue memasang buah bidak di kolom start dan mulai mengocok dadu. Muncul angka empat. Bidak pun bergerak empat kolom ke depan. Kolomnya berwarna biru, agak pudar mgkn karena kualitas cetakan kartonnya yang pas-pasan. Di situ, tergambar sebuah tangga. Tangga kuning yang nampak siap untuk dinaiki. Gue pun tersenyum. Inilah kesempatan gue. Gue bawa bidak menaiki tangga yang berujung kira-kira lima kolom. Tibalah gue di sebuah kolom kuning. Gue makin tersenyum. Ini adalah langkah yang bagus dan fantastik. Dengan kepercayaan diri yang menggebu-gebu, gue kocok lagi dadunya. Tak! Muncullah angka dua. Gue langkahkan bidak dengan harapan besar di ubun-ubun. Damn…gue tiba di suatu space, warnanya merah dan ditempati seekor ular, entahlah dari spesies apa, apakah sanca, piton, anaconda, atau kobra, pokoknya dia tampak marah dan…panjang…Yup, gue terlempar. Salah langkah. Jauh ke bawah. Gue kumpulkan lagi semangat yang sempat terpecah, gue rekatkan jadi satu. Gue terjatuh di suatu tempat, yang entah mengapa gue bersyukur bisa jatuh di situ. Gue jatuh di kolom start. Napas panjang ku hela. Gue bangkit. Gue tiup luka di kaki dan tangan, cukup sakit tapi seberapa. Gue ambil dadu yang terserak. Gue kocok lagi…Tak!…angka tiga. Gue melangkah dengan semangat yang sama dan menemukan…sebuah kolom kosong, tak ada tangga apalagi ular di situ. Damn. Tapi yah sudahlah gue akan terus bermain, berharap akan ada tangga dan bisa melewati segala ular yang ada sampai di ujung nanti…
Sampai saat ini, gue masih terus memegang dadu dan selalu mengocoknya dengan harapan dan semangat yang sampai saat ini masih terus ada…semoga…
NP: Fat Freddy’s Drop – Del Fuego
ah menulis lagi ah.
April 18, 2006
hai blog!
udh lama bgt gha buka blog ini dan gha mengupdate isinya (bukan mengupdate juga sih..mengisi, krn blom ada isinya..hehehe..), padahal setiap hari pasti online dari pulang kuliah ampe hampir pagi (God, jangan2 gw addict lagi..), tapi yahsudahlah lupakan masa lalu marilah kita menulis.
hari ini biasa saja. isi tas masih berat gara2 gagal menginep gara2 shooting tugas praktikum periklanan yang di-reschedule melulu. masih pake celana jeans yang belom dicuci dua minggu. masih mengelus-elus kepala yang mulai berambut ini. masih membajak lagu2 aneh dari regnyouth.com.
tapi yang bikin beda hari ini adalah…gw akhirnya punya semangat! suatu semangat yang harus dijaga terus! sebuah semangat yang mungkin bisa mengarahkan gw ke jalan yang setidaknya benar! akhirnya gw punya semangat untuk nulis blog! alhamdulillah…
np (now playing): everyday people - sly & family stone